Membunuh atau Bersahabat dengan Kesendirian



Meskipun bujang sudah menemukan bagian kehidupan yang telah ditakdirkan untuknya, namun setakat perjalan yang dijalani, ia masih merasakan bahwa kesendirian itu masih memberikan siksaan kepada dirinya. Pada persoalan yang senantiasa tidak ia pahami, dan kemudian beberapa perkara yang jika ia utarakan akan menjadikan masalah.

Mungkin ia tidak memiliki kemampuan untuk berterus terang, mengungkapkan apa yang menjadi keluh kesahnya dan apa yang menjadi kesulitan di dalam mengutarakan perasaannya. Namun, pada setiap kali ia mencoba menjadi yang terbaik, menjadi pendengar, dan sosok yang mampu mengerti dengan keadaan.

“ Mungkin, nasib tengah tidak berpihak denganku, atau mungkin saja takdir itu bermain-main dengan realita hingga aku merasakan persoalan yang sangat pelik seperti ini,” Begitulah yang senantiasa ia sebutkan di dalam hatinya. Selalu tindakan menyalahkan diri sendiri hingga merasa kebingungan dengan dirinya, ia terus menerus merasakan bahwa kesendirian itu begitu memberikan siksaan.

Bisa saja perasaan-perasaan yang muncul itu hanyalah sebatas asumsi, atau bahkan pergulatan persepsi manakala apa yang diinginkan hingga yang dibutuhkan tidak terpenuhi. Boleh saja terus berprinsip bahwa tetaplah memberikan (kasih sayang) namun tidak menuntut apapun.

Hingga pada suatu hipotesa, kondisi ini mengantarkan bahwa pada titik ini, memang bersahabat dengan kesendirian itu adalah cara terbaik untuk menyikapi keadaan. Apabila ditanya sampai kapan kondisi ini akan terjadi? Entahlah! Mungkin saja ada waktu khusus bagi si Bujang dengan Puti-nya itu untuk berbicara dari hati ke hati, berusaha untuk saling mengerti, saling memberikan kasih sayang. Lelaki ini masih memiliki keyakinan bahwa, apabila sudah betul-betul saling menyayangi, segala kesusahan dan kegundahan akan terasa, tanpa perlu untuk ditanya atau diungkapkan secara nyata.


Comments